Tuesday, 3 December 2013

survey permasalahan bk



BAB I
PENDHULUAN

A.    Latar Belakang
Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling  di sekolah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidk adanya landasan hukum (perundang-undangan), namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugs perkembangannya.
Peserta didik sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang kearah kematangan atau kemandirian, untuk mencapai kematangan tersebut, peserta didik memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Di samping itu, terddapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan peserta didik tidak selalu berlang sung secara mulus atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan, dan nilai-nilai yang diatur.
Setiap manusia yang hidup di dunia pastilah memiliki masalahnya masing–masing, entah itu besar ataupun kecil, tak terkecuali siapapun. Dan semua  orang pada umumnya sangat membenci sekali dengan datangnya suatu masalah. Padahal jika kita amati dan telaah lebih dalam lagi, setiap masalah, datang ketika kita berada dalam suatu proses untuk mencapai suatu tujuan atau cita–cita. Semua itu adalah berbagai bentuk masalah yang kemungkinan akan kita hadapi.
Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan social, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karier. Pelayan bimbingan dan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok atau klasikal sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang kami dapat merumuskan masalah sebagai berikut
·         Apa yang dimaksut dengan hakekat masalah?
·         Seperti apa permasalahan BK di sekolah?

C.    Tujuan Penilisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah agar penilis maupun pembaca mengetahui apa yang dimaksut dengan masalah dan bagaimana permasalahan bimbingan dan konseling disekolah.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakekat Masalah
Masalah merupakan bagian penting dari sebuah roda kehidupan. Dan pada dasarnya manusia adalah makhluk yang hanya dapat tumbuh dan berkembang dengan adanya suatu masalah. Jika tak ada masalah maka sulit rasanya bagi manusia untuk menjadi individu yang lebih baik dari sebelumnya. Coba kita bayangkan bagaimana rasanya jika setiap kali kita menginginkan sesuatu, keinginan tersebut langsung dapat terpenuhi tanpa adanya suatu proses perjuangan yang melibatkan masalah di dalamnya. Mungkin sekali dua kali akan terbayang betapa indahnya hidup ini, tapi jika hal itu terjadi secara terus menerus dalam kehidupan ini, maka tak akan ada peningkatan dari kualitas diri yang kita miliki atau bahkan malah menurun. Dan parahnya lagi kita akan kehilangan arti dari sebuah kehidupan, merasakan betapa hambar serta tak menariknya dunia ini. Bahkan mungkin sebagian besar dari kita akan memilih untuk mengakhiri  hidup karena tak ada lagi yang mesti kita capai dan perjuangkan sebab semuanya bisa secara langsung kita dapatkan.
Jadi sebenarnya masalah ada di dunia ini adalah memiliki tujuan tersendiri untuk kehidupan manusia, yaitu untuk menjaga kehidupan agar tetap aktif dan berpikir kreatif agar dapat melangkah maju menuju ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Hanya tergantung bagaimana manusia tersebut menyikapi setiap masalah yang datang. Setiap kejadian ataupun peristiwa jika disikapi dengan cara yang berbeda maka akan menghasilkan respon atau tindakan yang berbeda dan dengan adanya respon atau tindakan yang berbeda maka akan menghasilkan hasil yang berbeda pula.




1.      Pengertian Masalah, Pribadi, dan Masalah Pribadi
a.       Masalah
·         Menurut kitas istilah psikologi, masalah adalah pertentangan antara keinginan/dorongan yang saling berlainan, biasanya menimbulkan ketegangan emosional.
·         Menurut kitas istilah konseling (Drs.Sudarsono.S), masalah adalah kondisi/situasi yang tidak menentu, sifatnya meragukan dan sukar dimengerti yang memerlukan suatu pemecahan.
·         Menurut kitas besar bahasa Indonesia edisi ke II, masalah adalah sesuatu yang harus di selesaikan /dipecahkan.
Jadi masalah adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik, agar tercapai tujuan dengan hasil yang maksimal.
b.      Pribadi
Dalam penggunaan umum, kata pribadi mencakup suatu orang atau benda tertentu dari sebuah kumpulan. Sampai dengan abad ke-15, bahkan dewasa ini, dalam bidang statistik dan metafisika, pribadi berarti "tidak dapat dibagi", dan biasanya menggambarkan benda bilangan/numerikal apapun yang tunggal, namun kadang berarti "seseorang". Sejak awal abad ke-tujuh belas, istilah ‘pribadi’ menunjukkan keterpisahan, yakni individualisme. Kepribadian merupakan keadaan atau sifat individu; yaitu seseorang yang terpisah atau berbeda daripada orang lain dan memiliki kebutuhan, tujuan dan hasratnya sendiri.

c.       Masalah Pribadi
Adalah kesenjangan atau hambatan yang dialami oleh individu dalam mencapai suatu tujuan antara yang diinginkan dengan kenyataan yang ada.
Yang tergolong dalam masalah-masalah pribadi adalah masalah yang timbul dari dalam diri individu, mencakup rasa minder yang berlebihan, kurang PD, rendah diri, pemalu, tertutup (introvert), tekanan jiwa, masalah kesehatan, merasa bodoh, phobia, dan trauma.

B.     Permasalahan Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Fakta di lapangan, keberadaan Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah identik dengan masalah yang dihadapi siswa. Banyak siswa yang dianggap bermasalah diarahkan ke guru BK atau biasa disebut konselor untuk ditangani. Hal ini tidaklah salah, namun juga tak terlalu tepat. Ada kecenderungan guru BK ibarat polisi sekolah yang tugasnya menghukumi siswa bermasalah. Bahkan, siswa merasa tak nyaman berhubungan dengan guru BK, karena malu dan takut dianggap bermasalah oleh siswa-siswa lainnya. Seperti itukah wajah BK di sekolah?
Kenyataan tak dimungkiri apabila siswa kerapkali menjumpai masalah dalam kehidupannya. Masalah itu bisa berupa masalah pribadi, sosial, karir, pendidikan, dan lain sebagainya. Pada titik ini, ada individu siswa yang bisa mengatasi masalahnya tanpa intervensi pihak lain. Di sisi lain, ada individu siswa yang membutuhkan intervensi pihak lain untuk menyelesaikan masalahnya.
Terkait perlunya intervensi pihak lain dalam upaya mengatasi masalah individu siswa, keberadaan BK di sekolah menemukan fungsi dan perannya. BK, papar Eti Nurhayati (2011), adalah ilmu pengetahuan, seni, sekaligus sarana untuk menolong manusia yang sedang membutuhkan pertolongan dari masalah yang sedang dihadapi atau dari masalah yang kemungkinan akan dihadapinya. Artinya, BK memang berupaya membantu individu siswa mengatasi masalahnya, namun BK juga berfungsi melakukan usaha preventif agar individu siswa terhindar dari masalah.
Berbagai permasalahan bimbingan dan konseling di sekolah antara lain :
1.      Bimbingan dan konseling berpusat pada masalah permukaan saja
Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dengan melihat gejala-gejala dan keluhan awal yang disampaikan oleh klien. Namun demikian, jika pembahasan masalah itu dilanjutkan, didalami, dan dikembangkan, seringkali ternyata bahwa masalah yang sebenarnya lebih jauh, lebih luas dan lebih pelik bukan apa yang sekedar tampak atau disampaikan itu.ketidak jelian konselor dalam memandang ini yang sering kali membuat layanan konseling diperuntukan untuk masalah permukaan yang timbul saja

2.      Guru BK belum begitu mampu mengembangkan profesionalitasnya sebagai konselor sekolah
Masih banyakanya siswa yanng belum bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya dan belum maksimalanya pelaksanaan bk disekolah baik dalam layanan bimbingan maupun pada saat konseling menunjukan rendahnya kemapuan guru bk yang ada deskolah.

3.      Keterbatasan waktu dalam memberi layanan BK  
Rasio 1 guru bk dengan peserta didik yang diatasa sekitar 1:150 sehingga bila disekolah hanya ada  dua guru bk berarti hanya mampu menangani sekitar 300 peserata didik sedangakan satu sekolahan  terkadang memiliki siswa lebih dari 600 sealain hal itu pelaksaan BK hanya diberikan waktu pada jam istirahat atau pada saat jam mata pelajaran bk dari hal itu apakah cukup dengan perbandingan rasio dan jumlah konselor sudah cukup untuk melaksanakan bimbingan dan konseling?tentunya secara nalar kita akan menjawab ”tidak”.

4.      Keterbatasan informasi yang diberikan dalam memberikan layanan BK
kurang maksimalnya pemberian layanan bimbingan dan konseling disekolah terutama pada saat pemberian layanan BK,terkadang layanan BK yang diberikan oleh konselor belum bisa menjawab indicator yang diperlukan oleh peserta didi dan kebutuhan peserta didik pada saat itu.
5.      Kuranganya dukungan dari sistem yang ada disekolah
Kurang maksimalnya guru bimbingan dan konseling atau konselor sekolah dalam berkerja disekolah salah satunya kurang komunikasi antara guru kelas,wali kelas,kepsek dan lain-lain yang masih didalam lingkup sekolah dari hal ini bisa membuat konselor kurang bisa dengan segera dalam memberikan layanan konseling dan mendapat informasi yang cepat mengenai siswa.

6.      Berkerja dibawah tekanan
Ketidak berdayaan konselor dibanding dengan kekuasan kepala sekolah yang terkadang menganggap BK sebagai bagian dari pengajaraan sehingga dengan keterpaksaan konselor mengajar dalam mata pelajaran yang itu merupakaan bukan dari bidang keahliannya.

7.      Konselor sering tidak bisa menjalin hubungan yang baik dengan pesrta didik
Gamabaran konselor yang sangat killer membuat siswa sering menghindar apabila bertemu dan berpapasan dengan konselor sekolah ditmabah lagi sangat minimnya waktu tatap muka anatara konselor dan peserta didik diman konseor hanya masuk satu kali dalam 1 minggu itu dengan waktu yang sangat minim dari hal ini yang bisa membuat salah satu factor mengapa konselor kurang  bisa mejadi mitra atau teman bagi setiap pesrta didik yang ada disekolah hal ini bisa ditambah dengan sifat konselor yang sanagat dingin terhadap dengan harapan peserta didik menjadi segan terhadap konselor.

C.    Anggapan yang Salah Tentang BK di Sekolah
Berbagai hal dalam pelayanan bimbingan dan konseling sering ditafsirkan secara salah sehingga menimbulkan berbagai kesalahpahaman antara lain :
1.      Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah
Masih banyak anggapan bahwa peranan konselor di sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah. Tidak jarang pula konselor sekolah diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Konselor ditugaskan mencari siswa yang bersalah dan diberi wewenang untuk mengambil tindakan bagi siswa-siswa yang bersalah itu (cenderung menghukum siswa yang bermasalah) . Konselor didorong untuk mencari bukti-bukti atau berusaha agar siswa mengaku bahwa ia telah berbuat sesuatu yang tidak pada tempatnya .

·         Saran
Disamping petugas-petugas lainnya di sekolah, konselor hendaknya menjadi tempat pencurahan kepentingan siswa, apa yang terasa di hati dan terpikirkan oleh siswa. Petugas bimbingan dan konseling bukanlah pengawas atau polisi yang selalu mencurigai dan akan menangkap siapa saja yang bersalah. Petugas bimbingan dan konseling adalah kawan pengiring petunjuk jalan, pembangun kekuatan, dan Pembina tingkah laku positif yang dikehendaki. Petugas bimbingan dankonseling hendaknya bisa menjadi konselor pengayom bagi siapa pun yang datang kepadanya. Dengan pandangan, sikap, ketrampilan, dan penampilan konselor siswa atau siapapun yang berhubungan dengan konsellor akan memperoleh suasana nyaman.

2.      Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasehat
Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. Akan tetapi terkadang di sekolah konselor bukanlah orang yang benar-benar professional sehingga pada saat proses konseling terkesan hanya memberikan nasehat bukan memabatu konseli dalam menentukan keputusan,solusi terhdap masalahanya dan memandirikan.

·         Saran
Konselor juga harus melakukan upaya-upaya tindak lanjut serta mensinkronisasikan upaya yang satu dan upaya lainnya sehingga keseluruhan upaya itu menjadi suatu rangkaian yang terpadu dan bersinambungan dan memahami teknik-teknik konseling sehingga pada saat proses konseling tidak menjadi memberi nasehat.

3.      Bimbingan dan Konseling hanya untuk orang yang bermasalah saja
Sebagian orang berpandangan bahwa BK itu ada karena adanya masalah, jika tidak ada maka BK tidak diperlukan, dan BK itu diperlukan untuk membantu menyelesaikan masalah saja. Memang tidak dipungkiri bahwa salah satu tugas utama bimbingan dan konseling adalah untuk membantu dalam menyelesaikan masalah. Tetapi sebenarnya juga peranan BK itu sendiri adalah melakukan tindakan preventif agar masalah tidak timbul dan antisipasi agar ketika masalah yang sewaktu-waktu datang tidak berkembang menjadi masalah yang besar.

·         Saran
Seharusnya konselor selalu mengamati semua siswa baik yang memiliki masalah atau yang tidak bermasalah untuk menghindari anggapan tersebut hendaknya konselor selalu melaksana fungsi bimbingan preventif untuk menimimalisir anggapan tersebut sehingga dengan demikian sebelum ada masalah BK sudah muncul (layanan bimbingan).

4.      Layanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan oleh siapa saja
Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. Jawaban ”benar”, jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. Sedangkan jawaban ”tidak”.jika bimbingan dan konseling dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dengan kata lain dilaksanakan secara professional.
·         Saran
Jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi, tujuan, metode, dan asas-asas tertentu), dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi, serta pengalaman-pengalaman tentunya bila hal itu dilaksanakan anggapan bimbingan dapat diberikan olah  siapa saja tentunnya akan berubah.

5.      Bimbingan dan konseling dibatasi hanya menangani masalah yang bersifat incidental
Memang, sering kali pelayanan bimbingan dan konseling bertitik tolak dari masalah yang dirasakan klien sekarang, yang sifatnya diadakan. Namun pada hakikatnya pelayan itu sendiri menjangkau dimensi waktu yang lebih luas, yaitu yang lalu, sekarang, dan yang akan dating.

·         Saran
Petugas bimbingan dan konseling hendaknya harus terus memasyarakatkandan membangun suasana bimbingan dan konseling, serta mampu melihat hal-hal tertentu yang perlu diolah, ditanggulangi, diarahkan, dibangkitkan, dan secara umum diperhatikan demi perkembangan individu yang menjadi tanggung jawab konselor.




BAB III
KESIMPULAN

Setiap manusia yang hidup di dunia pastilah memiliki masalahnya masing–masing, entah itu besar ataupun kecil, tak terkecuali siapapun. Dan semua  orang pada umumnya sangat membenci sekali dengan datangnya suatu masalah. Padahal jika kita amati dan telaah lebih dalam lagi, setiap masalah, datang ketika kita berada dalam suatu proses untuk mencapai suatu tujuan atau cita–cita. Semua itu adalah berbagai bentuk masalah yang kemungkinan akan kita hadapi.
Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan social, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karier. Pelayan bimbingan dan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok atau klasikal sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik
Berbagai hal dalam pelayan bimbingan dan konseling sering ditafsirkan secara salah sehingga menimbulkan berbagai kesalahpahaman. Kesalah pahaman antara lain menyangkut hubungan antara bimbingan dan konseling dengan pendidikan, peranan konselor, jenis pemberian bantuan, dan karakteristik masalah yang ditangani, kualifikasi keahlian, hasil yang harus dicapai.








DAFTAR PUSTAKA

Prayitno & Amti, Erma. (2004). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta

Aplikasi Teknologi Informasi dalam Pemeliharaan Data Bimbingan dan Konseling

A.Urgensi
             Berkembangnya teknologi informasi menjadi sebuah alasan mengapa dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling perlu adanya pemeliharaan terhadap data-data yang telah disusun ataupun dirancang sebagaimana tugas-tugas yang telah dilaksanakan oleh seorang konselor dalam tugasnya membantu klien/konseli menuju perkembangan yang optimal dengan proses-proses bimbingan dan konseling.
                Namun, di zaman yang syarat akan teknologi informasi yang canggih ini, pemeliharaan data dalam bimbingan dan konseling perlu menjadi sebuah pembelajaran yang wajib untuk dipelajari oleh seorang konselor. Karena sesuai dengan kode etik seorang konselor yang harus menjaga data konseli sebagai suatu kerahasiaan sebagaimana asas bimbingan dan data yang bersangkutan jika ingin diberikan kepada orang-orang yang bersangkutan pula, harus ada persetujuan dari klien/konseli tersebut. Sudah banyak hacker dan orang-orang yang memiliki pemikiran jahil dalam membongkar sebuah data, tidak melalui virus, ataupun internet saja. Banyak sekali jalan-jalan yang akan dilalui oleh para hacker dalam membongkar data-data yang boleh jadi bersifat rahasia itu menjadi tidak rahasia lagi karena sudah terbongkar.
                Hal diatas menjadi sebuah gambaran begitu pentingnya menjaga data-data konseli yang bersifat rahasia sesuai dengan asas-asas bimbingan dan konseling. Oleh karena itu, dalam menjaga eksistensi, konsistensi, dan kompetensi seorang konselor dalam profesionalisasinya terhadap unjuk kerja bimbingan dan konseling khususnya terhadap aplikasi teknologi informasi dalam pemeliharaan data bimbingan dan konseling.

B. Definisi dan Jenis Pemeliharaan
                Pemeliharaan (Maintenance) adalah semua aktivitas yang berkaitan untuk mempertahankan peralatan system dalam kondisi layak bekerja. Sebuah system pemeliharaan yang baik akan menghilangkan variabilitas system. Taktik pemeliharaan adalah :
1.      Menerapkan dan meningkatkan pemeliharaan pencegahan
2.      Meningkatkan kemampuan atau kecepatan perbaikan
Jenis pemeliharaan secara garis besar terbagi menjadi dua golongan yaitu :
1.      Pemeliharaan Tidak Terencana (Unschedule Maintenance)
2.      Pemeliharaan Terencana (Schedule Maintenance)




1.      Pemeliharaan Tidak Terencana (Unschedule Maintenance)
Aktivitas pemeliharaan jenis ini adalah mudah untuk dipahami semua orang. Pemeliharaan jenis ini pula mengijinkan peralatan-peralatan beroperasi hingga rusak (fail). Waktu pemeliharaanya pun tidak bisa ditentukan karena aktivitas ini adalah dimana alat-alat mesin dioperasikan sampai rusak dan ketika rusak barulah tenaga kerja diserahkan untuk memperbaiki dengan cara “penggantian”.

2.      Pemeliharaan Terencana (Schedule Maintenance)
Pemeliharaan terencana adalah pemeliharaan yang dilakukan dengan diawali sebuah pengorganisasia atau rencana-rencana terlebih dahulu, dan memiliki pemikiran kemasa depan, pengendalian dan pencatatan sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Tentunya, jika melihat kedua jenis pemeliharaan diatas, Pemeliharaan Tidak Terencana lah yang mudah dilakukan karena tidak memerlukan perencanaan terlebih dahulu. Namun, dari segi keamanan dan kualitas, pemeliharaan terencanalah yang lebih memiliki esensi “memelihara” dibandingkan dengan pemeliharaan tidak terencana.

C. Sumber Data
                Untuk memperoleh data atau informasi yang objektif diperlukan sumber data yang dapat memberikan keterangan data atau informasi yang dapat dipercaya pula. Untuk itu data yang kita gali hendaknya bukan dari satu pihak saja, tetapi dari berbagai pihak yang mempunyai keterkaitan dengan pelaksanaan bimbingan di sekolah. Oleh karena itu, sumber data yang dapat kita hubungi dalam memperoleh informasi mengenai program bimbingan dan konseling adalah :
1.      Kepala Sekolah
2.      Koordinator BP;
3.      Guru Matapelajaran;
4.      Wali Kelas
5.      Staf Sekolah lainnya seperti pegawai tata usaha;
6.      Siswa dan teman terdekatnya;
7.      Orang tua dan masyarakat, serta
8.      Para ahli atau lembaga tertentu yang berkaitan dengan pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah.
Siapa sumber data yang perlu dihubungi? Tentunya disesuaikan dengan data atau informasi yang diperlukan, sedangkan yang dapat bertindak sebagai evaluator adalah terutama koordinator bimbingan dan konseling, kepala sekolah, penilik dan pengawas sekolah.
D. Aplikasi Pemeliharaan Data Bimbingan dan Konseling
                Dalam pemeliharaan data bimbingan dan konseling, aplikasi teknologi informasi sangat mendukung dalam membantu proses pemeliharaan. Aplikasi yang dibutuhkan pada pemeliharaan data bimbingan dan konseling tentunya yang sesuai dengan kapasitas data dan stabilitas komputer beserta jaringan yang digunakan. Ada beberapa aplikasi yang dapat membantu pemeliharaan data bimbingan dan konseling diantaranya :
1.      Hardware
2.      Hardisk Eksternal
3.      GHOST (General Hardwar Oriented System) Software
4.      Backup Data
5.      Antivirus
6.      Tape Recorder
7.      Video Recorder
Dari beberapa aplikasi diatas dapat kita gunakan sesuai dengan kapasitas sarana dan prasarana yang dimiliki dan stabilitas komputer  guna efisiensi dalam menjalankan pemeliharaan data bimbingan dan konseling. Untuk menggunakan aplikasi tersebut, sebaiknya kita menggunakan pemeliharaan terencana (Schedule Maintenance). Karena dengan begitu, pemeliharaan akan ter-manage dengan baik dan teratur sehingga memudahkan pemeliharaan data bimbingan dan konseling.